Direktur Sekolah Dasar Apresiasi Program Guru Keliling Kabupaten Polewali Mandar

Read Time:4 Minute, 51 Second

Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbudristek, Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., mengapresiasi program Guru Keliling atau Guling yang diinisiasi oleh Kabupaten Polewali Mandar. Program tersebut sebagai upaya pemenuhan hak pendidikan bagi anak-anak khususnya di daerah 3T yang memiliki kesulitan dalam mengakses pembelajaran.

Hal itu disampaikan Sri Wahyuningsih dalam sambutannya pada kegiatan Workshop Pendidikan dengan tema Asesmen Nasional dan Program Sekolah Penggerak sebagai Upaya Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan, di Hotel Ratih Polewali Mandar, 18 Oktober 2021.

“Kami sangat mengapresiasi program Guling yang diinisiasi oleh Kabupaten Polewali Mandar sebagai upaya pemenuhan hak pendidikan bagi anak-anak di Kabupaten Polewali Mandar,” kata perempuan yang biasa disapa Nining tersebut.

Pandemi Covid-19 yang telah menghambat pembelajaran sekolah selama 3 semester ini, lanjut Ning, menjadikan pembelajaran tatap muka terbatas menjadi solusi. Hal tersebut ditinjau dari berbagai masalahan pendidikan yang timbul, diantaranya adalah penurunan capaian belajar hingga banyak siswa yang putus sekolah. Meskipun pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ), akan tetapi metode tersebut tidak dapat dilakukan secara maksimal karena persoalan latar belakang daerah di Indonesia yang berbeda-beda.

“Berdasarkan hasil riset dan survei dari berbagai lembaga Indonesia dan dunia, penurunan capaian belajar akibat PJJ utamanya terjadi di kelompok anak kurang mampu,” imbuh Ning.

Selama PJJ banyak persoalan yang terjadi sehingga menurunkan capaian belajar siswa atau learning loss. Untuk siswa Sekolah Dasar, ditemukan realita bahwa Pekerjaan Rumah (PR) atau tugas para siswa dikerjakan oleh para orang tua. Sehingga mempengaruhi penilaian capaian belajar yang kemudian rentan terjadi learning loss.

Selain itu tingginya tingkat pernikahan dini terjadi di daerah yang ekonominya rendah (daerah 3T). Ini salah satu permasalahan sosial yang juga mempengaruhi pendidikan. Dan hal tersebut terjadi selama pandemi ini. Untuk menjawab segala tantangan tersebut pemerintah tidak pernah berhenti mengeluarkan berbagai kebijakan dan program untuk mendorong serta mempercepat peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Baja Juga :  Tiga Menteri Umumkan Pemenang Lomba ‘Rayakan Merdekamu’

“Oleh karena itu diharapkan program Sekolah Penggerak ini bisa menggerakkan lebih cepat kemajuan pendidikan di Indonesia, terutama dari aspek pola pembelajaran. Program ini memperkuat kemampuan digitalisasi dan sifat impulsif untuk menghilangkan 3 dosa (bullying, narkoba, kekerasan seksual) yang terjadi di sekolah agar tidak menjadi norma. Karena hal tersebut akan menimbulkan dampak buruk yang luar biasa,” kata Direktur Sekolah Dasar.

Di sisi lain, Dr. Hamka, M.Si., Sekertaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Polewali Mandar menyampaikan sebagian besar daerahnya sudah 1 tahun berhasil keluar dari kategori daerah tertinggal (3T). Polewali Mandar memiliki sekolah dengan jumlah TK sebanyak 500 sekolah, SD 323 sekolah, dan SMP 86 sekolah. Meski demikian, Hamka menyampaikan masih ada daerah yang tertinggal.

“Salah satu daerah yang masih tertinggal adalah Kecamatan Matana, sebuah kecamatan yang paling jauh. Selain itu juga anak-anak di kecamatan tersebut sulit untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh karena kesulitan mendapatkan jaringan,” paparnya.

Karena persoalan itulah kemudian muncul ide untuk membuat program Guling atau Guru Keliling selama masa pandemi dengan membuat sistem belajar kelompok yang berisi 4-5 orang per kelompok.

“Di sisi lain daerah kami juga sudah menjalankan PTM terbatas yang dilaksanakan dalam 2 shift pagi dan siang. Dengan jumlah maksimal untuk SD 14 siswa dan SMP 16 siswa dalam 1 ruangan. Tapi kami masih memiliki kekurangan yaitu para siswa masih saling menunggu temannya sehingga menimbulkan kerumunan,” terangnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ratih Megasari Singkarru, M.Sc., Anggota Komisi X DPR RI menyampaikan beberapa hal yang mempengaruhi pendidikan. Yaitu distribusi guru yang masih kurang. Apalagi kunci utama pendidikan ialah guru.

“Rasio guru dan siswa itu adalah 1 banding 17. Memang diantaranya ada yang sudah cukup memadai namun tidak merata. Banyak guru yang sudah tersertifikasi namun tertumpuk di 1 sekolah,” kata Ratih.

Baja Juga :  Pemerintah Umumkan 173.329 Guru Honorer Lulus Ujian Seleksi Pertama ASN PPPK Tahun 2021

Selanjutnya adalah kepemimpinan atau leadership. Ratih mengatakan penting sekali menjalin hubungan ekosistem atau komunikasi antar kepala sekolah dengan guru, guru dengan murid, dan lain-lain.

“Terkait kepemimpinan ini kuncinya ada di kepala sekolah dengan harapan memiliki kreativitas dan inovasi agar masalah ini tidak ada lagi,” imbuhnya.

Kemudian ada infrastruktur. Ratih menjelaskan bukan hanya tentang jalannya saja, akan tetapi juga ketersediaan sarana dan prasarana sekolah yang masih kurang. “Tingkat literasi rendah bukan karena anak tidak suka membaca tapi karena tidak ada buku yang bisa dibaca,” katanya.

Drs. Muhammad Ilyas Yacub, M.M., Praktisi Pendidikan dari Yayasan Kecerdasan Buatan Indonesia selaku narasumber dalam kegiatan tersebut menambahkan, syarat dasar peningkatan mutu pendidikan adalah kemauan, kesiapan, komitmen dan konsisten.

“Sementara yang bertanggung jawab dalam peningkatan mutu pendidikan pertama adalah pemerintah, kemudian masyarakat dan yang terakhir adalah sekolah,” terangnya.

Di sisi lain Dr. Muliadi, M.Sos.I., Wakil Rektor 1 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene menerangkan bahwa mutu pendidikan merupakan gambaran dan karakteristik menyeluruh yang mencakup input, proses, dan output pendidikan di sekolah.

Input yang harus dimiliki dalam satuan pendidikan, pertama adalah sumber daya manusia dan sumber daya yang lainnya. Lalu perangkat lunak yang meliputi struktur organisasi sekolah, deskripsi tugas, rencana program, dan peraturan. Kemudian harapan yang meliputi visi, misi, tujuan, dan sasaran yang akan dicapai.

“Selanjutnya adalah proses. Dalam proses ini terdapat makro, meso dan mikro. Makro adalah pengawasan, pembinaan, monitoring dari pemerintah pusat/pemda, LPMP, Rapor dari BAN SM. Meso adalah terjadi harmonisasi antara pemaduan input sekolah yang mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan. Sedangkan mikro adalah proses pengambilan keputusan, pengelolaan kelembagaan, pengelolaan program, proses belajar- mengajar, dan monitoring serta evaluasi,” paparnya.

Baja Juga :  Pentingnya Dukungan Kejiwaan dan Psikososial Bagi Peserta Didik

Selanjutnya adalah output yang harus dihasilkan oleh satuan pendidikan. Diantaranya adalah kinerja sekolah, prestasi sekolah dan lulusan sekolah. Kinerja sekolah adalah yang meliputi produktivitas, inovasi, kenyamanan belajar, akuntabilitas dan pelaporan. Prestasi sekolah diantaranya meliputi  prestasi akademik dan non-akademik. Sementara lulusan sekolah adalah kualiats SDM yang memiliki daya saing.

Sedangkan harapan, yang didalamnya terdapat visi pendidikan adalah mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Profil Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebhinekaan global.

“Selain beberapa hal diatas yang harus dicermati, harus diingat juga bahwa pendidikan di Indonesia masih memiliki tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Diantaranya ekosistem, guru, pedagogi, kurikulum dan sistem penilaian,” tutupnya

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )