Hadist tentang Etika Peserta Didik

Read Time:16 Minute, 59 Second
ETIKA PESERTA DIDIK
A.    Taat kepada Allah dan Rasul
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ مِنْهَالٍ الضَّرِيرُ وَأُمَيَّةُ بْنُ بِسْطَامَ الْعَيْشِيُّ وَاللَّفْظُ لِأُمَيَّةَ قَالَا حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا رَوْحٌ وَهُوَ ابْنُ الْقَاسِمِ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ} قَالَ فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ بَرَكُوا عَلَى الرُّكَبِ فَقَالُوا أَيْ رَسُولَ اللَّهِ كُلِّفْنَا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا نُطِيقُ الصَّلَاةَ وَالصِّيَامَ وَالْجِهَادَ وَالصَّدَقَةَ وَقَدْ أُنْزِلَتْ عَلَيْكَ هَذِهِ الْآيَةُ وَلَا نُطِيقُهَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَقُولُوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا بَلْ قُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ فَلَمَّا اقْتَرَأَهَا الْقَوْمُ ذَلَّتْ بِهَا أَلْسِنَتُهُمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ فِي إِثْرِهَا {آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ } فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ نَسَخَهَا اللَّهُ تَعَالَى فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ {لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا} قَالَ نَعَمْ { رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا }قَالَ نَعَمْ {رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ} قَالَ نَعَمْ {وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ} قَالَ نَعَمْ
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Minhal adl-Dlarir dan Umayyah bin Bistham al-Aisyi dan lafazh tersebut milik Umayyah, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Rauh -yaitu Ibnu al-Qasim- dari al-Ala’ dari bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata, “Ketika turun ayat pada Rasulullah SAW: ‘(Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu) ‘ (QS. al-Baqarah: 284) ‘ Abu Hurairah berkata, ‘Maka hal tersebut terasa berat atas para sahabat Rasulullah SAW, lalu mereka mendatangi Rasulullah SAW dan mengucapkan salam di atas kendaraan seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami diberi beban amalan yang mana kami tidak mampu melakukan shalat, puasa, jihad, dan sedekah. Sungguh telah diturunkan ayat ini kepadamu, dan kami tidak mampu melakukannya! Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kamu ingin mengucapkan sebagaimana ahli kitab sebelum kalian mengucapkan, ‘Kami mendengar dan kami mendurhakai’, akan tetapi katakanlah, ‘Kami mendengar dan kami menaati, ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’. Mereka menjawab, ‘Kami mendengar dan kami menaatinya, ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.’ Ketika kaum tersebut membacanya, maka lisan-lisan mereka tunduk dengannya, lalu Allah menurunkan sesudahnya: ‘(Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya’, dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat’. (Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’. (QS. al-Baqarah: 285). Ketika mereka melakukan hal tersebut, maka Allah menghapusnya, lalu menurunkan: ‘(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan  kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah) ‘ Allah menjawab: “Ya.” ‘(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami) ‘ Allah menjawab: “Ya.” ‘(Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya) ‘ Allah menjawab: “Ya.” ‘(Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir’. (QS. al-Baqarah: 286). Allah menjawab: “Ya.” (HR. Muslim)[1]
Penjelasan Hadis:
Hadis di atas menggambarkan bagaimana kepatuhan para sahabat kepada Allah dan Rasul-Nya ketika mendengar ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan kepada mereka atau ketika mendengar petunjuk-petunjuk dari Rasul. Tetapi ketika turun ayat al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 284 yang menjelaskan bahwa Allah akan menghitungkan segala ucapan manusia termasuk yang masih tersembunyi dalam hati, mereka keberatan dan terus terang menghadap kepada Nabi bahwa mereka tidak mampu mengamalkan ayat tersebut. Hadis di atas menjelaskan ketaatan para sahabat ketika turun wahyu dari Allah SWT dan sekaligus menjadi asbab al-nuzul al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 284-286.[2]
Adapun pelajaran yang dapat dipetik dari hadis di atas ialah:[3]
1.      Kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya secara absolut tidak ada batas tertentu, berbeda dengan kepatuhan kepada selainnya.
2.      Kepatuhan dan ketaatan hanya didasarkan pada keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika ada iman pasti ada kepatuhan, dan jika tidak ada iman maka tidak ada pula kepatuhan.
3.      Allah memuliakan umat Nabi Muhammad SAW dengan memberikan keringanan beban yang tidak seperti umat sebelumnya.
4.      Kondisi para sahabat sangat mematuhi hukum syara’ yang diturunkan kepada mereka.
5.      Kata hati yang belum direalisasikan dalam bentuk perbuatan atau perkataan tidak ada tuntutan, tetapi dalam kebaikan sudah dihargai pahala sebagai kemurahan Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW.
B.     Bertanya dan Menghargai Perbedaan
أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرِ بْنُ نُفَيْلٍ قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَعْقِلِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ أَقْرَأَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُورَةً فَبَيْنَا أَنَا فِي الْمَسْجِدِ جَالِسٌ إِذْ سَمِعْتُ رَجُلًا يَقْرَؤُهَا يُخَالِفُ قِرَاءَتِي فَقُلْتُ لَهُ مَنْ عَلَّمَكَ هَذِهِ السُّورَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لَا تُفَارِقْنِي حَتَّى نَأْتِيَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذَا خَالَفَ قِرَاءَتِي فِي السُّورَةِ الَّتِي عَلَّمْتَنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اقْرَأْ يَا أُبَيُّ فَقَرَأْتُهَا فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمََ أَحْسَنْتَ ثُمَّ قَالَ لِلرَّجُلِ اقْرَأْ فَقَرَأَ فَخَالَفَ قِرَاءَتِي فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنْتَ ثُمََّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أُبَيُّ إِنَّهُ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ كُلُّهُنَّ شَافٍ كَافٍ
قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ مَعْقِلُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ لَيْسَ بِذَلِكَ الْقَوِيِّ
Telah mengabarkan kepadaku Amr bin Manshur dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far bin Nufail dia berkata; Saya telah membacakan kepada Ma’qil bin Ubaidullah dari Ikrimah bin Khalid dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dari Ubay bin Ka’ab dia berkata; “Rasulullah SAW pernah membacakan suatu surat kepadaku, dan tatkala aku sedang duduk di masjid tiba-tiba aku mendengar seorang lelaki membaca dengan bacaan yang berbeda dengan bacaanku, maka aku bertanya kepadanya, Siapa yang mengajari bacaan surat ini? ‘ ia menjawab, ‘Rasulullah SAW“. Aku lalu berkata: ‘Jangan pergi dariku hingga kita datang kepada Rasulullah SAW“. Lalu aku mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, orang ini membaca sebuah surat dengan bacaan yang berbeda dengan bacaan yang engkau ajarkan kepadaku’. Kemudian beliau bersabda: ‘Wahai Ubay, bacalah’. Lalu akupun membacanya. Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ‘Bacaanmu baik. Kemudian beliau bersabda kepada laki-laki tersebut, ‘Bacalah’. Ia pun membacanya dan beliau bersabda kepada laki-laki tersebut, ‘Bacaanmu baik. Lalu beliau bersabda; ‘Wahai Ubay, alQur’an diturunkan dengan tujuh huruf (dialek), dan semuanya benar dan mencukupi’.” Abu Abdurrahman berkata; Ma’qil bin Ubaidullah orangnya lemah. (HR. Al-Nasa’i)[4]
Penjelasan Hadis:[5]
Suatu ketika Ubay duduk di Masjid mendengar bacaan seorang sahabat yang berbeda bacaannya pada ayat dan surat yang sama. Lantas terjadi dialog dan diskusi antara dua orang sahabat tersebut. Ubay bertanya “Siapa yang mengajarkan engkau surat ini?” Orang itu menjawab “Rasulullah” lalu Ubay berkata “Kita harus datang kepada Rasulullah untuk mendiskusikan hal ini.” Kemudian mereka berdua menghadap Rasulullah SAW untuk mempertanyakan peristiwa tersebut. Ya Rasulullah! Orang ini berbeda bacaannya dengan bacaanku pada surat yang engkau ajarkan. Lalu keduanya disuruh membaca oleh Rasulullah dan Rasulullah memuji bacaan keduanya.
Dari beberapa penjelasan di atas, yang perlu digarisbawahi dalam konteks etika seorang pelajar adalah bertanya ketika tidak tahu dan menghargai perbedaan.
Adapun pelajaran yang dapat dipetik dari hadis di atas ialah:
1.      Perlunya berguru dalam belajar membaca al-Qur’an dan dalam mencari ilmu.
2.      Guru sebagai narasumber dalam pembelajaran.
3.      Anjuran murid bertanya kepada guru tentang ilmu yang belum dipahami atau ketika menghadapi suatu keraguan dalam kebenaran asal dengan memelihara kesopanan.
4.      Murid menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengannya.
C.    Belajar Bersama
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَقَ يُحَدِّثُ عَنْ الْأَغَرِّ أَبِي مُسْلِمٍ أَنَّهُ قَالَ :أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basysyar mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah aku mendengar Abu Ishaq bercerita dari Al A’raj Abu Muslim bahwasanya dia berkata; aku bersaksi atas Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al Khudri bahwasanya keduanya menyaksikan Nabi SAW bersabda: “Tidaklah suatu kaum yang duduk berkumpul untuk mengingat Allah, kecuali dinaungi oleh para malaikat, dilimpahkan kepada mereka rahmat, akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah Azza Wa jalla akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)[6]
Penjelasan hadis:[7]
Hadis di atas memberikan motivasi kepada umat Islam agar berzikir kepada Allah SWT secara berkelompok dan belajar secara berkelompok sehingga mendapatkan berbagai keuntungan, diantaranya akan mendapatkan rahmat, ketenangan, dan ketentraman serta sifat-sifat kebanggaan. Kelompok belajar adalah kumpulan beberapa individu  yang di dalamnya terdapat hubungan timbal balik atau kerja sama antara individu serta saling mempercayai. Dengan kegiatan bersama ini akan meningkatkan kualitas kepribadian seperti kerja sama, toleransi, kritis, disiplin, bergairah, menyenangkan, dan pendistribusian keilmuan.
Ada empat keutamaan orang yang berzikir bersama atau belajar bersama yang disebutkan dalam hadis di atas yaitu:
1.      Dikelilingi para malaikat
2.      Diliputi rahmat
3.      Diturunkan ketenangan
4.      Disebut-sebut Allah di depan para malaikat
  1. Tekun Belajar
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ
Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami, Malik telah mengabarkan kepada kami dari Nafi’ dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan para penghafal al-Quran adalah seperti seorang yang memiliki unta yang terikat, jika ia selalu menjaganya, maka ia pun akan selalu berada padanya, dan jika ia melepaskannya, niscaya akan hilang dan pergi. (HR. Bukhari)[8]
Penjelasan hadis:[9]
Rasulullah SAW menegaskan perlunya kesungguhan dalam memelihara ilmu yang bersumber dari al-Qur’an atau memelihara al-Qur’an itu sendiri baik dengan hafalan ayat-ayatnya maupun dari segi pemahaman dan pengamalannya.
Pada hadis di atas Rasulullah SAW menggambarkan sulitnya membaca atau menghafal al-Qur’an, sebagaimana sabda beliau:
إنَّمَا مَثَلُ صَاحبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ الإِبِلِ المُعَقَّلَةِ
“Sesungguhnya perumpamaan pemilik (menguasai) al-Qur’an itu adalah seperti menguasai seekor unta yang terikat”
Kata “innama”  berfungsi sebagai peringkas makna. Artinya sesungguhnya perumpamaan orang yang membaca atau menghafal al-Qur’an hanya seperti menguasai unta. Unta dijadikan perumpamaan karena karakter binatang unta adalah binatang ternak yang sangat cepat larinya dan jika sudah lari sangat sulit ditangkap kembali.
Pelajaran yang dapat diambil dari hadis di atas ialah:[10]
1.      Dorongan sungguh-sungguh dalam mencari ilmu  dengan cara membaca, mencatat atau menulis ilmu dari berbagai referensi ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
2.      Perintah membaca secara berulang-ulang sehingga lancar, tidak lupa dan fasih bacaannya.
3.      Perintah menghafal al-Qur’an dan ilmu serta larangan melalaikannya.
4.      Ilmu dan al-Qur’an tidak akan hilang apabila dipelihara dengan baik yakni dibaca, dipahami dan diamalkan.

KESIMPULAN
Ada beberapa etika yang harus diperhatikan oleh peserta didik dalam mencari ilmu, diantaranya:
  1. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
  2. Bertanya dan menghargai perbedaan
  3. Belajar bersama
  4. Tekun belajar
CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )