Membangun Potensi dan Karakter Peserta Didik untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila

Peserta didik yang memiliki Profil Pelajar Pancasila dapat diwujudkan melalui pembangunan potensi dan pembentukan karakter. Di sinilah pentingnya peran satuan pendidikan, yang tentu saja harus mendapat dukungan dari keluarga dan lingkungan masyarakat.

Read Time:3 Minute, 51 Second

Peserta didik yang memiliki Profil Pelajar Pancasila dapat diwujudkan melalui pembangunan potensi dan pembentukan karakter. Di sinilah pentingnya peran satuan pendidikan, yang tentu saja harus mendapat dukungan dari keluarga dan lingkungan masyarakat.

Demikian disampaikan Dra. Sri Wahyuningsih, M.Pd., Direktur Sekolah Dasar Kemendikbudristek dalam Workshop Pendidikan yang diselenggarakan oleh Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, 18-19 Oktober 2021.

Sri Wahyuningsih melanjutkan, Profil pelajar Pancasila adalah tujuan yang ingin dicapai. Upaya pencapaiannya dilakukan melalui program Merdeka Belajar, yang bisa memberikan lahan kreativitas dan improvisasi bagi satuan pendidikan.

Selain itu, satuan pendidikan sudah mendapatkan kebebasan dalam menggunakan dana BOS. Agar satuan pendidikan bisa memanfaatkan dana bantuan dari pemerintah pusat tersebut untuk kebutuhan pendidikan secara tepat guna.

Direktur Sekolah Dasar memaparkan, pemahaman Profil Pelajar Pancasila dimulai dari 6 literasi dasar sebagai arah dalam mempersiapkan kehidupan di masa depan. Yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi budaya dan literasi finansial.

Di tengan pandemi Covid-19 ini, literasi baca tulis mengalami kemunduran. Karena kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah. Selain itu, kegiatan belajar mengajar dari rumah dinilai kurang efektif sehingga menimbulkan penurunan daya tangkap siswa.

“Nah, ini berarti ada yang salah dalam penerapannya. Maka guru juga harus membangun komunikasi dengan orang tua. Kondisi pandemi 3 semester ini harus menjadi pembelajaran dan evaluasi. Orang tua di rumah harus menjadi role model. Apabila orang tuanya suka membaca maka kemungkinan besar anaknya juga akan suka membaca,” kata Sri Wahyuningsih.

Untuk mengukur kemampuan literasi numerasi peserta didik, Kemendikbudristek akan melakukan Asesmen Nasional yang dimulai pada pertengahan November 2021 untuk jenjang sekolah dasar. Ia kembali menegaskan bahwa Asesmen Nasional bukan ujian, melainkan upaya mendapatkan gambaran kualitas pendidikan di setiap sekolah.

Baja Juga :  Jangan Dianggap Sepele! Ini Manfaat Rutin Cuci Tangan Pakai Sabun

“Ketika 6 literasi dasar ini sudah dipahami sejak tingkat sekolah dasar, ini menjadi bekal yang baik untuk kehidupan di masa depan. Inilah peserta didik yang memiliki Profil Pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, mandiri, berpikir kritis, kreatif, bergotong royong, dan berwawasan global,” kata Sri Wahyuningsih.

Ratih Megasari Singkarru, M.Sc., Anggota Komisi X DPR RI mengatakan masyarakat jangan hanya sekedar tahu Profil Pelajar Pancasila, tapi juga harus memahami dan mengimplementasikan di kehidupan sehari-hari.

“Misalnya beriman/bertakwa kepada Tuhan YME. Karakter ini sangat penting karena merupakan pijakan kita dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Ratih.

Kemudian karakter mandiri sangat penting di tengah pandemi. Anak-anak dipalsa oleh keadaan untuk memiliki kemampuan dan kesadaran belajar sendiri secara daring. Mandiri sangat berdekatan dengan kedisiplinan, seperti disiplin menjaga protokol kesehatan, baik di rumah maupun di sekolah.

Selanjutnya adalah karakter kreatif. Kepala sekolah dan guru harus kreatif untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Sehingga memacu minat belajar anak-anak semakin meningkat, meski di tengah pandemi.

”Kemudian bernalar kritis. Anak- anak harus diajarkan untuk memiliki daya pikir critical thinking. Ketika anak-anak kita tidak memiliki daya pikir yang kuat, ke depan mereka bisa menjadi pribadi yang tidak memiliki prinsip. Critical thinking diperlukan untuk memecahkan masalah dan memberikan solusi dari masalah yang ada,” jelasnya.

Dan yang terakhir adalah kolaborasi. Kolaborasi dapat dilakukan dengan siapa pun, dengan melihat potensi dan memetakannya. ”Misalnya saja membangun kolaborasi dengan Kementerian Pariwisata untuk mewujudkan pendidikan vokasi kepariwisataan. Karena sumber daya manusia kita masih kurang untuk menyambut para wisatawan,” kata Ratih.

Koordinator Pengawas Disdikpora Kabupaten Majene, Abdul Rahman, S.Pd., M.Pd., menjelaskan penguatan Profil Pelajar Pancasila erat kaitannya dengan budaya kerja. Yaitu pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitarnya.

Baja Juga :  Pilihan Hotel Paling Mewah di Indonesia

”Hal ini memberikan kesempatan bagi para peserta didik untuk belajar dalam situasi tidak formal, struktur belajar yang fleksibel, kegiatan belajar yang interaktif, dan juga terlibat langsung dengan lingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai kompetensi dalam Profil Pelajar Pancasila,” ujarnya.

Ada beberapa prinsip yang harus dipahami dalam menumbuhkan karakter Profile Pelajar Pancasila, menurut Abdul Rahman. Pertama adalah prinsip holistic, yaitu bermakna memandang sesuatu secara utuh dan menyeluruh, tidak parsial atau terpisah- pisah.

“Kerangka berpikir holistic mendorong kita untuk menelaah sebuah tema secara utuh dan melihat keterhubungan dari berbagai hal untuk memahami sebuah isu secara mendalam,” katanya.

Yang kedua ada prinsip kontekstual, yakni berkaitan dengan upaya mendasarkan kegiatan pembelajaran pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam keseharian. Prinsip ini mendorong guru dan peserta didik untuk dapat menjadikan lingkungan sekitar dan realita kehidupan sehari- hari sebagai bahan utama pembelajaran.

Kemudian prinsip ketiga berpusat pada peserta didik, yaitu berkaitan dengan skema pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk menjadi subjek pembelajaran yang aktif mengelola proses belajarnya secara mandiri. Diharapkan guru dapat mengurangi perannya dalam kegiatan belajar mengajar yang menjelaskan banyak materi dan memberikan banyak instruksi. Diharapkan para murid lebih aktif dan guru hanya bertugas sebagai fasilitator pembelajaran.

“Yang terakhir adalah prinsip eksploratif, yaitu berkaitan dengan semangat untuk membuka ruang yang lebar bagi proses inkuiri dan pengembangan diri,” katanya.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )