Pendalaman Materi Meneladani sejarah perjuangan Rasululah SAW di Makah

Read Time:17 Minute, 23 Second

 

 Nabi  Muhammad SAW. adalah manusia termulia di muka bumi ini. Beliau diutus Allah SWT. untuk semua umat manusia dengan membawa ajaran tauhid yaitu agama Islam. Kemuliaan dan kebesarannya tidak hanya diakui oleh umat Islam tetapi juga oleh orang-orang Barat, tidak hanya diakui oleh para pengikutnya, tetapi juga oleh para lawan lawannya.

Dalam menyampaikan ajaran Islam  Nabi Muhammad SAW menghadapi banyak tantangan dan hambatan baik berupa tekanan fisik maupun teror mental. Namun dengan perjuangan dan kegigihannya  beliau berhasil menyebarkan Islam ke seluruh Jazirah Arab sampai ke berbagai penjuru dunia seperti yang kita rasakan sekarang. Untuk lebih jelas bagaimanakah Strategi Dakwah Rasulullah Muhammad SAW. dalam menyebarkan Islam di Mekah,  coba ikuti pembahasan berikut !

 

A.   DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH

1.    Sejarah Dakwah Rasulullah SAW. Periode Mekah

                Menjelang usia 40 tahun, Rasulullah SAW, sering berkhalwat (mengasingkan diri)  di Gua Hira untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT mengenai cara memperbaiki keadaan bangsa Arab yang pada saat itu sedang mengalami kehancuran. Menjelang kedatangan Islam, bangsa Arab sedang dalam keadaan terpuruk dan porak poranda dalam segala bidang baik bidang ketuhanan, moral, sosial politik, persatuan, dan sebagainya.

Kegiatan berkhalwat (mengasingkan diri) tersebut selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW. di Gua Hira selama berhari-hari. Hingga pada suatu saat, ketika beliau berkhalwat (mengasingkan diri) lebih dari satu bulan lamanya, tepatnya  pada tanggal 17 Ramadhan tahun 610 M datanglah Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW. di dalam gua tersebut untuk menyampaikan wahyu pertama, yaitu Surat Al ‘Alaq ayat 1- 5, yang berbunyi:

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾

Artinya:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. ” (QS. Al ‘Alaq, 96 : 1 – 5)

Inilah wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang juga penobatan beliau sebagai nabi dan rosul bagi seluruh umat manusia dan tugasnya untuk berdakwah. Kejadian ini diceritakan kepada istrinya, Khadijah dan saat itu juga Khadijah mengimaninya. Dialah orang yang pertama beriman dan masuk Islam.

Setelah turun wahyu tersebut, Rasulullah SAW. merasa kebigungan tentang apa yang harus dilakukan, sebab belum ada perintah yang jelas tentang tugas- tugasnya sebagai rasul Allah SWT. Kondisi demikian itu berlangsung lama, sampai-sampai Rasulullah SAW, hampir putus asa, sebab wahyu berikutnya yang di tunggu-tunggu belum kunjung datang. Kurang lebih dua setengah tahun dari turunnya wahtu pertama, akhirnya wahyu yang kedua mulai diterimanya, yaitu Surat Al Muddatstsir ayat 1 – 7, yang berbunyi:

 

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ﴿١﴾ قُمْ فَأَنذِرْ ﴿٢﴾ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ﴿٣﴾ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ﴿٤﴾ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ﴿٥﴾ وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ ﴿٦﴾ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ ﴿٧﴾

 

 

 

Artinya:

“Wahai orang yang (berselimut) bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu! Dan bersihkanlah pakaianmu! Dan tinggalkanlah perbuatan dosa! Dan janganlah kamu (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu bersabarlah!” (QS. Al Muddatsir, 74 : l-7)

Sejak turun wahyu tersebut, Rasulullah SAW. melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Maksudnya agar manusia tidak terkejut terhadap ajaran Islam yang belum pernah mereka ketahui dan mereka dengar. Sasaran dakwah Rasulullah SAW. secara sembunyi-sembunyi adalah para kerabatnya, handai taulan, dan sahabat-sahabat yang percaya terhadap kebenaran risalahnya. Rasulullah SAW. menyeru, bersatu padu, dan saling membantu.

Selama tiga tahun lebih Rasulullah SAW. menyampaikan dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi. Berkat kegigihan Rasulullah SAW. akhirnya banyak pula yang tertarik dan menyatakan diri masuk agama Islam. Mereka itu kemudian dikenal dengan istilah “As-Sabiqunal Awwalun.” Artinya:”Orang yang pertama-tama masuk Islam.”

Orang yang pertama kali beriman dari pihak perempuan adalah Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW.). Nabi tidak mengalami kesulitan dalam mengajak istrinya beriman terhadap agama Allah. Bahkan, Khadijah yang selalu menghibur Nabi ketika dilanda kecemasan dan ketakutan, seperti pada saat menerima wahyu pertama.

Dengan masuk Islamnya Khadijah, kekuatan Islam semakin bertambah, khususnya dalam hal perekonomian. Khadijah seorang saudagar kaya yang sangat dermawan dan selalu mendukung perjuangan Rasulullah SAW. Setelah masuk Islam, seluruh hartanya diserahkan kepada Rasulullah untuk kepentingan perjuangan Islam. Sungguh mulia hati Khadijah, sehingga selama berumah tangga dengannya, Rasulullah SAW. sangat berkesan dan sering menyebut-nyebut namanya sepeninggal istri tercintanya itu.

Dari kalangan laki-laki yang pertama kali beriman adalah Abu Bakar Sidiq. Abu Bakar adalah sahabat dan teman dekat Nabi sejak usia remaja dan mengenal baik sifat dan akhlak kepribadian beliau. Ia adalah saudagar kaya di kalangan bangsa Quraisy. Setelah mendengar penjelasan langsung dari Rasulullah SAW. tentang ajaran Islam, ia langsung percaya dan menyatakan diri masuk Islam tanpa meminta dalil-dalil dan alasan yang mendetail dari Rasulullah SAW. Baginya, apa pun yang dikatakan Rasulullah SAW. baik langsung didengarnya maupun tidak, diyakininya sebagai kebenaran yang nyata. Oleh sebab itulah, Rasulullah SAW. memberinya gelar As-Siddiq (yang selalu membenarkan).

Dari kalangan anak-anak yang pertama kali masuk Islam adalah Ali Bin Abu Thalib. Ali adalah sepupu Nabi Muhammad SAW anak paman beliau yang bernama Abu Thalib bin Abdul Muthalib. Setelah Nabi berkeluarga dengan Khadijah, Ali diboyong oleh Nabi untuk tinggal bersamanya, sekaligus juga membalas budi baik sang paman terhadap diri beliau sewaktu masih kecil. Ketika Rasulullah SAW. menerima wahyu, Ali baru berumur 10 tahun. Namun, karena lama tinggal bersama Rasulullah SAW. Ali mengenal betul perangai dan akhlak beliau. Oleh sebab itu, ketika Rasulullah SAW. menjelaskan kepadanya tentang ajaran Islam, Ali langsung mempercayainya dan menyatakan diri masuk Islam.”

Begitu pula dari kalangan hamba sahaya yang pertama kali masuk Islam adalah Zaid bin Haritsah. Zaid bin Haritsah adalah hamba sahaya yang telah dimerdekakan oleh Khadijah dan tinggal bersama Nabi. Setelah merdeka, dia diangkat anak oleh Rasulullah SAW dan Khadijah. Oleh karena itu, ketika Rasulullah SAW  berdakwah di kalangan sanak keluarganya, Zaid menyatakan diri masuk Islam.

 

2.    Profil Dakwah Rasulullah SAW. pada Periode Makkah

Sebenarnya, dakwah Rasulullah SAW. selama periode Makkah terbilang sukses. Meskipun banyak aral melintang, cobaan, gangguan, dan ancaman datang silih berganti dan nyaris tidak pernah berhenti selama lebih kurang 12 tahun beliau berdakwah. Indikator kesuksesan itu tampak dari banyaknya pengikut yang setia dan siap mengorbankan harta, bahkan jiwa dan raga untuk membela agama Islam yang dianutnya. Selain itu, dari sisi keragaman ekonomi, status sosial, dan usia juga menunjukkan adanya kekuatan tersendiri bagi lajunya dakwah Islam pada masa itu.

Kesuksesan dakwah Rasulullah SAW. periode Makkah itu, tidak terlepas dari profil dan karakter dakwah beliau yang sangat simpatik dan mengagumkan banyak orang. Di antara profil dakwah Rasulullah SAW. periode Makkah yang paling menonjol sebagai berikut.

a.   Berdakwah dengan Sikap Lemah Lembut

      Rasulullah SAW. menyadari bahwa suku bangsanya (bangsa Quraisy) tergolong suku bangsa yang berwatak keras dan pemberani. Oleh sebab itu, jika dakwah Islam disampaikan dengan sikap perilaku yang arogan dan tidak lemah lembut, maka agama Islam tidak akan diterima oleh mereka, sekalipun oleh kaum budak belian atau hamba sahaya.

b.  Berdakwah kepada Keluarga dan Karib Kerabat Terdekat

      Menyadari bahwa menyelamatkan diri sendiri dan keluarga dari api neraka itu lebih utama, maka Rasulullah SAW. mendahulukan berdakwah di kalangan keluarga, mula-mula isterinya, pamannya, sepupunya, sahabat terdekatnya, dan kemudian keluarga jauh. Dengan demikian, banyak sanak keluarga yang siap menjadi pengikut dan sekaligus pelindungnya dari ancaman musuh.

c.   Berdakwah dengan Sikap Perilaku Jujur dan Amanah

      Sejak kecil, Rasulullah SAW. dikenal orang yang paling jujur dan amanah. Seumur hidupnya tidak pernah berdusta dan tidak pernah berkhianat. Ucapannya senantiasa menujukkan kejujuran dan sikap perilakunya dapat dipercaya. Berkat sikap perilaku jujurnya itulah banyak orang simpati dan percaya terhadap pembicaraannya.

d.  Berdakwah dengan Sikap Sabar dan Tawakal

      Sebenarnya, tidak kepalang beratnya penderitaan yang ditanggung Rasulullah SAW. ketika berdakwah di Makkah. Namun, beliau tidak pernah menyerah apalagi membalas perbuatan keji musuh-musuhnya. Sebaliknya, beliau tetap bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT. seraya mendoakan kaumnya itu agar mendapat petunjuk Allah SWT.

 

e.  Berdakwah dengan Sikap Tasamuh (Toleran)

      Menyadari bahwa agama yang disampaikannya tergolong agama baru, maka Rasulullah SAW. senantiasa menunjukkan sikap toleran terhadap pemeluk agama lain. Agama Islam disebarkan tidak dengan paksaan, melainkan dengan jalan sukarela dan sikap saling menghormati dan menghargai.

 

3.    Pengaruh Dakwah Rasulullah SAW.

        Profil dakwah yang dimiliki Rasulullah SAW. sebagaimana tersebut di atas, jelas sangat berpengaruh bagi perkembangan dakwah Islam selanjutnya. Lambat tapi pasti banyak orang yang ingin menyatakan isi hatinya untuk masuk agama Islam. Hanya saja, pada waktu itu tekanan dan ancaman kaum kafir Quraisy masih sangat kuat, sehingga banyak orang yang memilih menunggu situasi yang memungkinkan untuk menyatakan diri masuk Islam.

        Tidak sedikit orang yang menyatakan ke-Islamannya secara diam-diam, bahkan ada di antara mereka yang berasal dari kalangan bangSAWan dan hartawan.

        Dakwah Rasulullah SAW. selama periode Makkah sangat berkesan dan berpengaruh di hati umatnya. Sebab selain mengajarkan tentang ke-Esaan Tuhan (Tauhidullah), Rasul juga mengajarkan tentang tata aturan dan norma yang berhubungan dengan kehidupan manusia, baik secara individu maupun kelompok. Beliau mengajarkan tentang bagaimana manusia bergaul dengan Tuhannya, sesama manusia dan alam lingkungannya yang semuanya mengutamakan kebersamaan, demokrasi, dan keadilan.

        Materi dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW. pada waktu itu, sangat relevan dengan tuntutan kehidupan manusia. Sehingga, bagi kebanyakan masyarakat Makkah ajaran Islam yang disampaikan beliau dianggap sebagai angin segar untuk perubahan tatanan kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara, dan itu dapat dirasakan kebenarannya setelah Islam benar-benar dapat diterima di hati mereka.

 

B.   SUBTANSI DAN STRATEGI DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH

1.    Subtansi Dakwah Rasulullah SAW. Periode Makkah

        Selama lebih kurang 12 tahun, Rasulullah SAW. berdakwah di Makkah. Materi yang disampaikan dalam dakwah beliau selama di Makkah, langsung terfokus kepada substansinya, yaitu mengenai tauhidullah (meng-Esakan Allah SWT.). Masyarakat Makkah pada waktu itu sedang dilanda berbagai krisis dan yang paling menonjol adalah krisis ketuhanan. Mereka meninggalkan agama Tauhid yang telah diajarkan oleh nenek moyang mereka terdahulu, yakni Nabi Ibrahim As. dan anak-anak keturunannya. Penduduk Makkah lebih suka menyembah berhala, patung-patung dari tanah tiat, batu-batu besar, dan benda-benda tertentu yang dianggapnya dapat menyampaikan hajatnya kepada Allah SWT. Berhala yang paling banyak disembah dan dianggap dapat mewakili Tuhan adalah Latta, Uzza, Hubal, dan Manat.

        Keyakinan masyarakat Mekah yang mendua itulah yang disebut syirik (menyekutukan Allah) dan membuat Rasulullah SAW. merasa prihatin. Maka beliau segera memfokuskan dakwahnya kepada pembenahan aspek keimanan agar kembali kepada aqidah tauhid yang meng-Esakan Allah. Situasi dan kondisi di Mekah saat itu belum memungkinkan bagi Rasulullah SAW. untuk membenahi, aspek-aspek sosial, ekonomi, politik, budaya, dan sebagainya karena jumlah umat Islam pada waktu itu masih terbatas.

Adapun yang disampaikan oleh nabi untuk masyarakat yaitu :

a.   Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah SWT, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dan hari pembalasan (hari kiamat), dan kengerian neraka dan siksaannya, surga dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti rasional dan ayat-ayat kauniah (tanda-tanda alam).

b.  Menyampaikan kepada umat tentang dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat, dan penyingkapan dosa orang musyrik seperti : penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara zalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.

c.   Menyebutkan kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib orang yang mendustakan agama tauhid sebelum mereka

 

2.    Strategi Dakwah Rasulullah SAW. Periode Makkah

        Sejak mendapat wahyu pertama, Rasulullah SAW. segera memikirkan metode dan cara menyampaikan risalah yang diterimanya. Sampai pada akhirnya beliau mengambil keputusan bahwa dakwah harus dilakukan dengan dua tahap, yaitu tahap pertama secara sembunyi-sembunyi dan tahap kedua secara terang-terangan.

a.   Dakwah secara Sembunyi-sembunyi

      Rasulullah SAW menampakkan Islam pada awal mulanya kepada orang yang paling dekat dengan beliau, anggota keluarga dan sahabat karib beliau. Mereka adalah orang yang sudah beliau kenal baik, dan mereka mengenal baik beliau, mereka yang diketahui mencintai kebaikan dan kebenaran, dan mereka juga mengenal kejujuran dan kelurusan beliau. Mereka yang diseru ini, langsung memenuhi seruan beliau, karena mereka sama sekali tidak menyangsikan keagungan diri beliau dan kejujuran kabar yang beliau sampaikan. Mereka dikenal dengan As-Sabiqunal Awwalun (yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam).

      Mengenai orang-orang yang telah memenuhi seruan dakwah Rasulullah SAW tersebut adalah: Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW, wafat tahun ke-10 dari kenabian), Ali bin Abu Thalib (saudara sepupu Rasulullah SAW yang tinggal serumah dengannya), Zaid bin Haritsah (anak angkat Rasulullah SAW), Abu Bakar Ash-Shiddiq (sahabat dekat Rasulullah SAW) dan Ummu Aiman (pengasuh Rasulullah SAW pada waktu kecil).

      Mereka masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah SAW menemui mereka dan mengajarkan agama dengan sembunyi-sembunyi dan perorangan. Wahyu diturunkan sedikit demi sedikit, lalu berhenti setelah turunnya awal surat Al-Mudatsir. Ayat-ayat dan potongan surat yang turun saat itu, berupa ayat-ayat pendek, dengan penggalan-penggalan kata yang indah menawan dan sentuhan lembut, membawa orang-orang Mukmin ke dunia lain, tidak seperti dunia yang ada pada saat itu.

      Selama tiga tahun dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perorangan. Selama jangka waktu ini telah terbentuk sekelompok orang-orang mukmin yang saling menguatkan hubungan persaudaraan dan saling membantu. Penyampaian dakwah terus dilakukan, hingga turun wahyu yang mengharuskan Rasulullah SAW. menampakkan dakwah kepada kaumnya, menjelaskan kebatilan mereka dan menyerang berhala-berhala sesembahan mereka.

b.  Dakwah secara Terang-terangan

      Rasulullah SAW. melakukan dakwah secara terang-terangan setelah menerima wahyu dari Allah SWT. agar melaksanakan dakwah kepada manusia secara terbuka. Wahyu yang memerintahkan demikian itu adalah firman Allah SWT. dalam Surat Al Hijr: 94 berikut.

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ ﴿٩٤﴾

Artinya:

      “Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. “(QS. Al Hijr, 15 : 94)

      Begitu juga firman Allah SWT. Surat Al Maidah ayat 67 berikut ini.

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ﴿٦٧﴾

Artinya:

      “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu. Jika tidak engkau kerjakan (apa yang diperintahkan itu), berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang kafir. ” (QS. Al Maidah, 5 : 67)

      Dengan turunnya kedua ayat di atas, Rasulullah SAW. semakin gigih berdakwah secara terbuka di muka umum. Beliau segera mengumpulkan sanak keluarga dan mengundang seluruh penduduk kota Makkah di bukit Shafa, kemudian beliau menyampaikan dakwahnya di atas bukit itu, seraya berkata. “Apakah kalian percaya, jika saya katakan di balik bukit ini terdapat pasukan kuda yang akan menyerang kita? Dengan serentak mereka menjawab: Ya,kami percaya dan tidak meragukan sama sekali, sebab selama ini kami tidak pernah melihat engkau berdusta.” Kemudian, Rasulullah SAW. mengatakan: “Selamatkan diri kalian dari api neraka, sesungguhnya aku memberi peringatan kepada kalian tentang siksaan Allah yang amat pedih, mengajak kalian untuk menyembah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian yang menciptakan alam semesta dan yang kamu sembah. Jadi, tinggalkanlah Latta, Uzza, dan Manat serta berhala-berhala sesembahan kalian.”

      Mendengar dakwah Rasulullah SAW. reaksi masyarakat Makkah bermacam-macam. Ada yang merasa senang dan segera menyatakan diri masuk Islam, ada yang acuh tak acuh dan tidak mau peduli, dan ada yang merasa tersinggung dan sangat marah, seperti Abu Lahab dan istrinya. la mengatakan kepada Rasulullah SAW.: “Celakalah wahai Muhammad, apakah untuk ini kamu mengumpulkan kami semua”. Perkataan Abu Lahab itu, segera dibantah oleh Allah SWT. dalam Surat Al Lahab ayat 1 – 5.

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ ﴿١﴾ مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ ﴿٢﴾ سَيَصْلَى نَاراً ذَاتَ لَهَبٍ ﴿٣﴾ وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ ﴿٤﴾ فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ ﴿٥﴾

      Artinya:

      “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia kan masuk ke da/am api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) isterinya si pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Dilehernya ada tali dari sabut yang dipintal. “(QS. Al Lahab, 111: 1- 5)

      Tahap-tahap dakwah Rasulullah SAW secara terang-terangan ini antara lain sebaga berikut:

      Mengundang kaum kerabat keturunan dari Bani Hasyim, untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak agar masuk Islam. Walau banyak yang belum menerima agama Islam, ada 3 orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang sudah masuk Islam, tetapi merahasiakannya. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Ja’far bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

      Rasulullah SAW mengumpulkan para penduduk kota Mekah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shafa.

 

3.    Reaksi Kaum Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah SAW

Prof. Dr. A. Shalaby dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Islam, telah menjelaskan sebab-sebab kaum Quraisy menentang dakwah Rasulullah SAW, yakni:

a.   Kaum kafir Quraisy, terutama para bangSAWannya sangat keberatan dengan ajaran persamaan hak dan kedudukan antara semua orang. Mereka mempertahankan tradisi hidup berkasta-kasta dalam masyarakat. Mereka juga ingin mempertahankan perbudakan, sedangkan ajaran Rasulullah SAW (Islam) melarangnya.

b.  Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam tentang adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam kubur dan alam akhirat, karena mereka merasa ngeri dengan siksa kubur dan azab neraka.

c.   Kaum kafir Quraisy menolak ajaran Islam karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidup bermasyarakat warisan leluhur mereka.

d.  Dan, kaum kafir Quraisy menentang keras dan berusaha menghentikan dakwah Rasulullah SAW karena Islam melarang menyembah berhala.

Usaha-usaha kaum kafir Quraisy untuk menolak dan menghentikan dakwah Rasulullah SAW bermacam-macam antara lain:

a.   Para budak yang telah masuk Islam, seperti: Bilal, Amr bin Fuhairah, Ummu Ubais an-Nahdiyah, dan anaknya al-Muammil dan Az-Zanirah, disiksa oleh para pemiliknya (kaum kafir Quraisy) di luar batas perikemanusiaan.

b.  Kaum kafir Quraisy mengusulkan kepada Nabi Muhammad SAW agar permusuhan di antara mereka dihentikan. Caranya suatu saat kaum kafir Quraisy menganut Islam dan melaksanakan ajarannya, tetapi di saat yang lain umat Islam menganut agama kaum kafir Quraisy dan melakukan penyembahan terhadap berhala. Menghadapi usaha kaum kafir tersebut, Rasulullah dan kaum muslimin menolak dengan menjawab : “ Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku “.

 

c.   Penerapan Sikap dan Perilaku Dakwah Rasulullah Periode Mekah

      Sikap dan perilaku yang mencerminkan dakwah Rasulullah SAW antara lain:

1.   Mengimani dengan sebenar-benarnya bahwa Muhammad SAW adalah rasul dan nabi penutup para nabi.

2.   Mencintai Rasullulah Muhammad SAW.

3.   Mensosialisasikan sunnah Nabi Muhammad SAW.

4.   Gemar dan senang membaca buku sejarah nabi-nabi.

5.   Memelihara silaturahmi dengan sesama manusia.

6.   Berkunjung ke tanah suci Mekah atau Madinah untuk melihat/ menapak tilas perjuangan Nabi Muhammad SAW.

7.   Mempelajari dan memahami Al Quran dan hadis-hadisnya.

8.   Senantiasa berjihad dijalan Allah.

9.   Aktif/ikut serta dalam acara kepanitiaan untuk memperingati hari-hari besar Islam.

10.    Merawat dan melestarikan tempat ibadah (masjid).

11.    Menekuni dan mempelajari warisan Nabi Muhammad SAW.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )