Pengertian Hadis Dha’if

Read Time:12 Minute, 15 Second
HADIS DHA’IF
A.    Pengetian Hadis Dha’if
Hadis dha’if adalah bagian dari hadis mardud[1]. Dari segi bahasa dha’if berarti lemah lawan dari al-qawi (kuat). Secara istilah diantara para ulama terdapat perbedaan rumusan dan mendefinisikan hadis dha’if ini. Akan tetapi, pada dasarnya, isi dan maksudnya adalah sama. Diantaranya adalah:
 An-Nawawi dan al-Qasimi mendefinisikan hadis dha’if dengan:
مَا لَمْ يُوْ جَدُ فِيْهِ شُرُوْطُ الصِّحَّةِ وَلاَ شُرُوْطُ الحَسَنِ
Hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat shahih ataupun syarat-syarat hasan.[2]
Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib menyatakan bahwa definisi hadis dha’if adalah:
  كُلُّ حَدِيْثٍ لَمْ تَجْتَمِعْ فِيْهِ صِفَةُ الْقَبُوْلِ
Segala hadis yang didalamnya tidak berkumpul sifat-sifat maqbul.
Menurut Nur al-Din ‘Itr definisi yang paling baik tentang hadis dha’if adalah:
مَا فَقِدَ شَرْطًا مِنْ شُرُوْطِ الْحَدِيْثِ الْمَقْبُوْلِ
Hadis yang hilang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadits maqbul.[3]
Dari definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa jika satu syarat dari persyaratan hadis shahih dan hadis hasan hilang berarti hadis itu dinyatakan sebagai hadis dha’if. Apalagi kalau sampai hilang dua atau tiga syaratnya, seperti perawinya tidak adil, tidak dhabith, dan adanya kejanggalan dalam matan. Maka hadis yang seperti ini bisa dinyatakan sebagai hadis dha’if yang sangat lemah.
B.     Hukum Meriwayatkan Hadis Dha’if
Menurut ahli hadis dan yang lainnya boleh meriwayatkan hadis-hadis dha’if, sedangkan mempermudah dalam sanad-sanadnya tanpa penjelasan kedha’ifannya, menyalahi hadis-hadis maudhu’, maka sesungguhnya hadis itu tidak boleh diriwayatkan kecuali bersama penjelasan kedha’ifannya asalkan dengan dua syarat:
1.      Apabila tidak berhubungan dengan masalah-masalah akidah, seperti sifat-sifat Allah SWT
2.      Apabila tidak untuk menjelaskan hukum-hukum syari’ah yang berhubungan dengan halal dan haram.[4]
Artinya boleh meriwayatkannya dalam masalah peringatan-peringatan, anjuran, ancaman dan sebagainya. Orang yang mempermudah dalam meriwayatkannya adalah Sufyan As-Tsaury, Abdurrahman bin Mahdy dan Imam Ahmad bin Hambal.
C.     Hadis mardud (tertolak) karena gugur sanad
Yang dimaksud gugur sanad adalah terputusnya silsilah sanad, dengan gugur seorang rawi atau lebih dengan sengaja,dari sebagian rawi-rawi atau dari yang lainnya dengan sengaja dari awal sanad atau akhir atau pertengahannya, baik gugur secara jelas atau tersembunyi.
Adapun macam-macam hadits yang gugur sanadnya adalah:
1.      Hadis Mursal
Kata mursal secara bahasa berarti lepas atau terceraikan dengan cepat atau tanpa halangan. Kata ini kemudian digunakan untuk hadis tertentu yang periwayatannya ‘melepaskan’ hadis tanpa terlebih dahulu mengaitkannya kepada sahabat yang menerima hadits itu dari nabi.
Al-Hakim merumuskan hadis mursal dengan:
ماَرَفَعَهُ التَّاَ بِعِيُّ إِلَى الرَّسُوْلِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ تَقْرِيْرٍ صَغِيْرً كاَنَ التَّا بِعِيُّ أَوْكَبِيْرًا.
Hadis yang dimarfu’kan oleh seorang tabi’iy kepada Rasulullah SAW baik berupa sabda, perbuatan maupun taqrir baik tabi’iy itu kecil atau besar.[5]
Hadis mursal menurut ulama fiqih adalah hadis yang perawinya melepaskannya tanpa menjelaskan sahabat yang ia ambil riwayatnya.
Contoh:
             أَخْبَرَنَا الحُسَيْنُ بْنُ إِدرِيْسَ الأَنْصَارِي قَا لَ أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِى بَكْرٍ عَنْ مَالِكٍ عَنِ بْنِ شِهَابٍ الزُّهْرِى عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عِبْدِاللهِ عنِ بْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ اِلَى مَكَّةَ عَامَ الفَتْحِ فِي رَمَضَانَ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَا لكَدِيْدَ ثُمَّ أَفْطَرَوَاَفْطَرَ النَّاسُ مَعَهُ.
Al-Husain bin Idris al-Anshari bercerita pada kami, katanya Ahmad bin Abi Bakr  bercerita pada kami dari Malik dari Ibn Syihab al-Zuhry dari ‘Ubaydillah bin ‘Abdullahdari ibn Abbas sesungguhya Rasulullah SAW bersabda : keluar dari Mekah pada tahun pembukaan kota itu bulan Ramadhan, ia berpuasa hingga sampai ke kadid kemudian ia berbuka dan umat muslim juga berbuka”.
Hadis di atas disebut sebagai mursal karena Ibnu Abbas  tidak meriwayatkan hadis tersebut langsung dari nabi. Abdullah ibn Abbas tidak ikut berpergian bersama Rasulullah ke Mekah ketika penaklukan kota itu. Saat itu, ia masih kecil dan tinggal bersama orang tuanya. Ibnu Abbas meriwayatkan hadis itu dari sahabat lain tapi tidak menyebutkan namanya dalam sanad hadis. Karena itu, penyandaran hadis tersebut menurut Ibnu Abbbas tidak dapat diterima sebab usia yang tidak memungkinkan dan hadisnya dinyatakan mursal shahabi.[6]   
a.       Macam-macam hadis mursal
1)      Mursal tabi’iy
Hadis yang diriwayatkan oleh Tabi’in dari nabi baik dari perkataan, perbuatan, persetujuan, baik tabi’in senior ataupun tabi’in yunior tanpa menyebutkan penghubung antara seorang tabi’in dan nabi SAW yaitu seorang sahabat.[7]
2)      Mursal Shahaby
Mursal shahaby adalah pemberitaan sahabat yang disandarkan kepada nabi Muhammad SAW, tetapi ia tidak menyaksikan sendiri apa yang ia beritakan, lantaran disaat Rasulullah hidup ia masih kecil atau terakhir masuknya kedalam agama islam.
Secara definitif hadis mursal shahaby ialah :
ماَ يَرْوِيْهِ الصّحَابِيُّ عَنْ شَيْئٍ فَعَلَهُ النَّبِيُّ صلعم اَوْ نَحْوِهِ بِمَا يُعْلَمُ اَنَّهُ لَمْ يَحْضُرْهُ لِصِغَرِ سِنِّهِ أَوْ تَأَخُرِاِسْلَامِهِ
“Uraian dari seorang sahabat tentang sesuatu yang dikerjakan nabi SAW dsb dengan pengetahuan bahwa ia sendiri tidak menyaksikannya, karena pada ketika itu masih kecil atau terbelakang masuk islamnya”.
3)      Mursal Khafy
هُوَ رِوَايَةُ مَنْ عَاصَرَالتَّابِعِىّ صَحَابِيًاوَلكِنَّهُ لَمْ يَسْمَعْ حَدِيْثًا مِنْهُ
 “Hadis (yang diriwayatkan tabi’iy), dimana tabi’iy yang meriwayatkan hidup sezaman dengan shahaby, tetapi ia tidak pernah mendengar sebuah hadis pun dari padanya.[8]
b.      Kehujjahan hadis Mursal dikalangan Ulama
1)      Mursal Tabi’iy
a)      Imam Malik, Ahmad, Abu Hanifah
Hukumnya Shahih dan dapat dijadikan hujjah, jika yang memursalkannya dapat dipercaya keadilan dan kedhabithannya.
b)      Muslim Al-hajjaj, Abu-Hatim, Hakim, Ibnu As-Shalah, An-Nawawi dan IbnuHajar
Dha’if tidak dapat dijadikan hujjah, dengan alasan sifat-sifat perawi yang digugurkan tidak diketahui secara jelas.
c)      Imam Syafi’i
Dapat dijadikan hujjah, dengan beberapa syarat yaitu: perawi yang memursalkan hadis seorang tabi’in, perawi seorang yang tsiqah, tidak menyalahi para huffazh yang amanah. Syarat-syarat tersebut ditambah salah satu dari empat syarat yaitu: hadisnya diriwayatkan melalui jalan (sanad)  lain, ada periwayatan lain secara mursal juga ada ahli ilmu yang bukan pemursal pertama, sesuai dengan perkataan sahabat, sesuai dengan fatwa mayoritas ahli ilmu.[9]
2)      Mursal Shahabi
a)      Pendapat jumhur ulama muhaddisin
Shahih dapat dijadikan hujjah, karena para sahabat semua bersifat adil dan periwayatan sahabat sangat langka.
b)      Pendapat segolongan Ushuliyyin (Abu IshaqAl-Isfarayini)
Tidak dapat dijadikan hujjah, kecuali dapat dikatakan hadis tersebut hanya diriwayatkan dari sahabat.
3)      Mursal Khafi
Tergolong mardud dan Dhaif karena tidak adanya persambungan sanad atau diantara periwayat tidak bertemu langsung dengan si pembawa berita.[10]
2.      Hadis Mu’dhal
Secara bahasa kata mu’dhal berasal dari kata أَعْضَلَ يُعْضِلُ إِعْضَالاً فَهُوَ مُعْضَلٌ yang berarti melemahkan, melelahkan, menutup rapat atau menjadikan bercacat.
Sedangkan menurut istilah, hadis mu’dhal adalah:
هُوَ مَا سَقَطَ مِنْ إِسْنَادِهِ فَأَ كْثَرَ عَلَى التَّوَالِي
Hadis yang gugur sanadnya dua orang atau lebih secara berturut-turut.
Contoh Hadis mu’dhal :
لِلْمَمْلُوْكِ طَعَامُهُ وَكِسْوَتُهُ
Bagi hamba sahaya mempunyai hak makan dan pakaian.
Hadis mu’dhal tidak dapat dijadikan hujjah. Keadaannya lebih buruk daripada hadis mursal dan hadis munqathi’ karena banyaknya rawi-rawi sanadnya yang dibuang.
3.      Hadis Munqati’
Kata munqathi’ berasal dari إِنْقَطَعَ-يَنْقَطِعُ-إِنْقِطَاعًا-مُنْقَطِعٌ  berarti terputus lawan dari muttashil (bersambung). Dalam istilah hadis munqathi’ ada 2 pendapat yaitu sebagai berikut:
a.       Pendapat mayoritas muhaddisin
مَا سَقَطَ مِنْ إِسْنَادِهِ رَاوٍ أَوْ اَكْثَرُ قَبْلَ صَحَابِيْ لاَ عَلَى التَّوَالِيْ
Hadis yang digugurkan dari sanadnya seorang perawi atau lebih sebelum sahabat tidak berturut-turut.
b.      Pendapat fuqaha ushuliyyun dan segolongan muhaddisin diantaranya al-Khatib al-Baghdadi dan Ibnu Abdul Barr
هُوَ كُلُّ مَا لَمْ يَتَّصِلْ إِسْنَادُهُ مِنْ أَيِّ وَجْهٍ كَانَ إِنْقِطَاعُهُ
Segala hadits yang tidak bersambung sanadnya dimana saja terputusnya.
Hadis munqathi’ adalah hadis yang sanadnya terputus. Artinya seorang perawi tidak bertemu langsung dengan pembawa berita baik di awal, tengah, atau di akhir sanad, maka masuk di dalamnya hadis mursal, mu’allaq dan mu’dhal. Namun ulama mutaakhirin dan umumnya mutaqaddimin mengkhususkan munqathi’ yang tidak sama dengan yang lain. Sebagaimana kata An-Nawawi, bahwa kebanyakan munqathi’ digunakan pada pengguguran perawi setelah tabi’in dari sahabat.
Hadis munqathi’ tergolong mardud menurut kesepakatan para ulama, karena tidak diketahui sifat-sifat perawi yang digugurkan, bagaimana kejujuran dan kedhabithannya.
Contoh hadis munqati’ :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم إِذَا دَخَلَ المَسْجِدَ قَالَ:بِسْمِ اللهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِاللهِ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ وَافْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
“Konon Rasulullah SAW, apabila masuk masjid memanjatkan do’a: “Dengan nama Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah, Ya Tuhan! Ampunilah dosa-dosaku dan bukalah pintu rahmat untukku”
Penjelasan hadis ini ditakhrijkan oleh Ibnu Majah dengan sanad-sanad: Abu Bakar Abi Syaibah, Ismail bin Ibrahim, Al-Laits, ‘Abdullahbin Hasan, Fathimah binti Husain dan Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW,  ini terdapat keguguran seorang rawi sebelum Fathimah Az-Zahra, sebab Fathimah binti Husain tidak pernah bertemu dengan Fathimah Az-Zahra yang wafat sebulan setelah Rasulullah wafat.[11]
  
KESIMPULAN
              Hadis dha’if adalah bagian dari hadis mardud. Dari segi bahasa dha’if berarti lemah lawan dari al-qawi (kuat). Secara istilah diantara para ulama terdapat perbedaan rumusan dan mendefinisikan hadis dha’if ini. Akan tetapi, pada dasarnya, isi dan maksudnya adalah sama.
An-Nawawi dan al-Qasimi mendefinisikan hadis dha’if dengan:
مَا لَمْ يُوْ جَدُ فِيْهِ شُرُوْطُ الصِّحَّةِ وَلاَ شُرُوْطُ الحَسَنِ
Hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat shahih ataupun syarat-syarat hasan.
Hadis dha’if yang disebabkan keterputusan sanad terbagi kepada 3 yaitu :
1.      Mu’allaq
2.      Mursal juga terbagi 3: mursal shahabi, mursal khafy dan mursal tabi’i
3.      Mu’dhal
CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )